Festival Seni Layar Kemendung Bumi Blambangan

Festival Seni Layar Kemendung Bumi Blambangan

Festival Seni Layar Kemendung Bumi Blambangan

Festival Seni Layar Kemendung Bumi Blambangan

PartiCular Gallery. – Festival Seni Layar Kemendung Bumi Blambangan Sabtu, 20 Oktober 2018 Banyuwangi kembali menggelar pertunjukan akbar. Festival gandrung sewu kembali digelar tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, tahun ini pemerintah kabupaten Banyuwangi menghadirkan 1.314 penari untuk memeriahkan perhelatan  gandrung sewu 2018. Seperti tahun sebelumnya, festival gandrung sewu di gelar di Pantai Boom Banyuwangi. Tema besar yang diangkat adalah ‘Layar Kemendung’ yang mengisahkan tentang perjuangan seorang bupati pertama Banyuwangi yang bernama Raden Mas Alit melawan belanda yang menjajah bumi Blambangan. Pertunjukan digelar sangat elok, hingga membuat silau wisatawan luar negeri. Penonton festival gandrung sewu tidak hanya dihadiri warga banyuwangi saja, warga Jawa Timur bagian Timur alias tapal kuda ikut memeriahkan acara. Tidak mau kalah, wisatawan Jepang dan Amerika turut serta memanjakan mata pada sabtu siang di pantai Boom. Fotografer dan media luar negeri juga turut meliput festival gandrung sewu.

Festival gandrung sewu dipersiapkan sejak lama untuk menarik wisatawan sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Mulai dari tukang parkir hingga pedangang kali lima semuanya mendapatkan cipratan rezeki di gelarkannya festival gandrung sewu. Pada jumat 19 Oktober 2018 penumpang pesawat terbang di bandara blimbing sari mencapai 1644 orang, dan membeludak pada 20 Oktober 2018 penumpang pesawat mencapai 1547 orang. Ada peningkatan yang signifikan melihat data penumpang sejak 2010 lalu. Penginapan yang tersedia di Banyuwangi juga mengalami peningatan jumlah wisatawan. Tidak hanya dari wisatawan dalam negeri tetapi juga banyak dari wisatawan luar negeri.

Tari gandrung adalah tarian asli banyuwangi yang tak terpisahkan kaitannya dengan perjuangan warga Banyuwangi melawan penjajah belanda. Jika jendral sudirman memiliki taktik perang gerilya untuk melawan penjajah. Warga Banyuwangi memiliki tari gandrung untuk menumpas penjajah dan mengembalikan semangat perjuangan bangsa Indonesia. Dahulu penari gandrung adalah laki-laki, tetapi seiring dengan perubahan zaman penari gandrung beralih dari penari laki – laki ke penari perempuan.

Pagelaran tidak hanya di isi tarian gandrung saja, tetapi di bumbui beberapa tari daerah seperti kuntulan. Kuntulan menjadi kesenian pembuka festival, remaja-remaja menyanyi pujian-pujian islami dengan musik hadrah. Iring-iringan gamelan juga mewarnai pertujukan. Serta drama kolosal. Drama yang di suguhkan sangat luar biasa hingga mampu menggetarkan sanubari penonton. Digambarkan jelas bagaimana sulit dan menderitanya perjuangan Mas Alit dan warga blambangan dalam membela tanah air.

Layar Kemendung Bumi Blambangan

Warga Banyuwangi pada masa itu tidak diberi kesempatan untuk mengenal bangsanya sendiri. Belenggu Belanda benar-benar merenggut cahaya kebahagiaan masyarakat Banyuwangi. Anak-anak kehilangan orang tua, seorang istri kehilangan suami, suami kehilangan martabatnya sebagai laki-laki karena kebegisan Belanda. Penderitaan warga tidak hanya sampai disitu, bupati Banyuwangi pertama, Raden Mas Alit ditawan oleh Belanda. Peperanganpun tidak bisa di hindarkan. Semua luluh lantak dengan tanah. Kesedihan menjadi cerita panjang kala itu.

Cerita yang begitu mengesankan ditutup dengan klimaks yang istimewa. Penulis naskah tidak sekedar membuat drama kolosal tetapi juga membubukan sejarah gandrung, mengapa gandrung ada dan dilestarikan. Di ceritakan setelah mengalami penderitaan yang berkepanjangan, sekelompok warga yang tergabung dalam sanggar tari tergerak hatinya untuk menghibur warga yang sedang berkabung. Demi menghibur warga, sekelompok penari menampilkan tarian gandrung di depan warga. Sedikit demi sedikit warga kembali menemukan cahaya kebahagiaan setelah melihat eloknya tarian yang disuguhkan.

Diakhir cerita warga dibuat bertanya-tanya. Pasalnya ada suatu adegan yang belum ditampilkan. Yaitu perobekan bendera belanda yang berkibar di bumi Blambangan. Usut punya usut, pertunjunkan sengaja dipotong. Akan ada season dua atau kelanjutan drama kolosal Layar Kemendung. Season dua akan ditampilkan pada pagelaran gandrung sewu 2019. Warga begitu gemas sekaligus semangat untuk menghadiri pertunjukan gandrung sewu tahun depan.

Dibalik suksesnya pertunjukan yang di gelar, beberapa insiden tidak menyenangkan sempat terjadi. Barigade yang dipasang disepanjang pantai dibobol warga. Pembobolan barigade terjadi karena barigade dipasang terlalu jauh dari pantai sehingga warga biasa yang tidak memiliki undangan atau ID card tidak bisa melihat secara jelas. Sebelum kejadian sempat ada negosiasi antara warga dengan petugas satpol PP yang bertugas untuk memberikan ‘kelonggaran’ kepada warga untuk memasuki area pertunjukan tanpa ID Card.

Tetapi sayangnya negosiasi gagal hingga warga terpaksa membobol pagar. Beberapa penari ada yang tak sadarkan diri saat pentunjukan berlangsung, panas matahari merobohkan beberapa penari. Selain hal itu FPI sempat menolak diadakannya festival ini karena beberapa hari sebelum pertunjukan digelar indonesia di timpa bencana, beberapa diantaranya berkaitan dengan festival budaya yang di gelar di tepi pantai. Gempa situbondo juga menjadi alasan mengapa FPI menolak pertunjukan budaya yang digelar oleh pemerintah. Tetapi beberapa hal tersebut tidak mengganggu jalannya pertunjukan. Bertunjukan dapat berjalan lancar dan memberikan kesan yang luar biasa bagi penikmat seni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *